Seperti Kereta, Lokomotif Karsa Menjalin Kata Merangkai Cerita
Melankolia
Karya Perdana Penulis Pemula
Sore
hari perlahan datang, menawarkan dingin
yang gerimis bawa, beriringan menguapnya air hujan, mendesis menghantam lapisan
jalan aspal yang panas. Sayup terdengar peluit panjang, membuyarkan lamunanku.
Aku terkesiap dan mulai menyadari lalu lalang orang di sekitarku, mengejar
kereta petang yang segera berangkat. Kemana saja, ke tempat segala kebutuhan
dan kepentingan dibawa, ke tempat dimana kesibukan mendapat sebuah arti. Namun
aku tidak kemana-mana, hanya terduduk diam dan mencari arti kesibukan bagi diri
sendiri. Menatap layar komputer jinjing, setengah berisi tulisan yang menatap
balik.
Aku
menarik kursi, mengangkat tanganku keatas untuk meredakan pegal yang mulai
menyergap. Seolah mendapat tanda, seorang pelayan kafe, wanita bertubuh ramping
dan berekor kuda—rambutnya, datang menghapiri dan bertanya apakah aku siap
umtuk memesan. Karena tidak ingin membuatnya kecewa setelah menunggu selama satu
jam, maka segelas es kopi—kopi hitam tubruk, gula pelit agar terasa pahit dan
pada akhirnya aku tetap mengecewakan si pelayan dengan menolak segala macam
tawaran metode brewing kopi yang
susah payah dijelaskannya—jadi pilihan cepat dan tepat. Pelayan tersebut
mencatat pesanan, membalik badan, sekilas terlihat senyum kecut pada bibirnya
dan kembali ke konter. Aku menebak dari tawa mengejek rekan-rekannya, mereka
mulai berdebat dan memasang taruhan: Apakah aku jenis tamu yang berlagak sok
mengikuti trend, sok eksekutif muda
yang datang ke sebuah kafe untuk sekedar menghabiskan waktu jeda rapat-rapat
yang melelahkan, mengecek schedule pada
komputer jinjing dan melengkapi tatanan sempurna dengan segelas kopi bercita
rasa tinggi? Atau hanya si miskin berpendapatan minim, pesan segelas, raup
layanan koneksi internet gratis dengan bebas? Well, penampilanku tidak terlalu jelek, tapi sungguh, aku pun akan
bertaruh pada pilihan kedua.
Aku
berada di sebuah kafe kopi kecil di sudut Stasiun Tawang Semarang, terletak
sejauh 1 kilometer ke utara dari titik nol Kota Semarang. Tidak banyak
pengunjung kafe yang datang sore ini, sehingga memberi pandangan yang leluasa
pada keadaan sekitar. Stasiun Semarang Tawang yang sejak diresmikan tahun 1914
pada pemerintahan Hindia Belanda. Dulu bernama Semarang Nederland-Indische-Spoorwerg. Semula digunakan untuk
bongkar muat dan angkut barang, hingga kini masih beroperasi aktif sebagai
kereta penumpang melintasi jalur utara perkereta-apian Kota Semarang. Dirancang oleh seorang arsitek Belanda Mister Sloth
Blauwboer. Setelah rancangan disetujui, upacara peletakan batu pertama
pembangunan dimulai pada 29 April 1911.
Bangunannya
masih nampak kokoh, sebuah simbol keangkuhan artistik zaman penjajahan yang
masih tegar menghadapi arus modernisasi dan efisiensi di sana-sini. Bangunan
utamanya berbentuk pendopo segiempat dengan sebuah kubah kecil menjulang di
atasnya. Di bagian sayap kiri dan sayap kanan terdapat koridor-koridor
memanjang, kursi-kursi yang kurang nyaman—sesuai dengan fungsi utamanya, agar
orang tidak duduk berlama-lama atau bahkan tidur diatasnya, baru melihatnya
saja punggungku sudah pegal—tiang penopang atap yang berjajar dan dinding yang
dominan berwarna putih cerah. Pintu lengkung utama terbentuk dari susunan bata
merah yang artistik, di atasnya terdapat bentuk tulisan “Semarang”, menegaskan
jati diri stasiun. Tegel lama yang kusam setelah berkali-kali dilanda
banjir—pernahkah kalian mendengar lagu daerah Semarang Kaline Banjir (Semarang Sungainya Banjir)?—banyak yang
diganti keramik putih bersih. Cat-cat yang mengelupas dilapis cat baru. Di
banyak sudut dapat ditemukan layar-layar monitor modern yang menyala,
menampilkan angka dan huruf berkelip bergantian. Sayup terdengar dengung mesin
komputer diantara denting-denting bel elektronik yang khas. Permainan
lampu-lampu terang dan kandelir—besar dan kuno—yang temaram, saling mengisi,
memberi kesan nostalgis yang kental, menampakan sosok arsitektur Belanda yang
indah, sarat sejarah.
Kesepuluh
jemariku terus bergerak sedikit berlebihan, seakan tahu apa yang akan
kutuliskan. Tapi otakku tidak. Dia menjerit, meraung dan mulai berasap—aku
sedikit berlebihan, kuakui—mengalahkan derit roda kereta beradu dengan besi
padat rel kereta. Aku mulai mempertanyakan kenapa aku ada disini. Aku ingin
menulis sesuatu, tentu saja. Berharap semuaanya akan semudah memanaskan mesin
lokomotif, dan kata-kata akan meluncur dengan sendirinya melalui rel-rel mulus.
Namun sementara kereta listrik terus berganti jadwal, mengangkut ratusan
penumpang, melewati puluhan kota. Aku bagaikan kereta api uap ketinggalan
jaman—berjalan pelan, sering tersendat dan mengeluarkan uap panas di kepala
lokomotif.
Sedikit informasi, lokomotif uap
menggunakan ketel uap untuk mendididhkan
air. Tekanan uap yang dihasilkan, dialirkan ke ruang piston
dan memicu piston-piston bergerak (umumnya gerakan naik turun). Gerakan ini
akan diteruskan lengan-lengan mekanis yang memutar poros roda kereta. Pada sekitar tahun 1804, Richard
Trevithick mulai memperkenalkan lokomotif uap untuk pengganti tenaga kuda atau
manusia. Kemudian pada sekitar tahun 1825, George Stephenson yang merancang
penggunaan bahan bakar batubara pada lokomotif uap untuk kereta api melalui
mesin yang dinamakan Blucher. Batu
bara dimanfaatkan sebagai
sumber bahan bakar, dimasukkan ke dalam tungku pembakaran untuk mendididhkan air
di ketel uap.
Kira-kira
seperti itulah gambaran yang ingin dicapai sistem berpikirku. Aku membaca. Dan
dibalik apa yang kubaca itulah yang kuharapkan menjadi ‘sumber bahan bakar’
tulisanku. Bukan sesuatu hal yang dapat
dibanggakan sebenarnya. Bukan bacaan karya sastra yang indah
atau terkenal sebenarnya. Bukan bacaan yang informatif
dan berbobot sebenarnya—mungkin pada tulisan selanjutnya saya akan memberikan review buku apa saja yang kubaca,
nantikan, kalau aku tidak malas tentunya—Dan
bukan, percayalah bukan, dari jenis intelektual yang dapat membuatmu jenius
dalam semalam, kemudian pada pagi hari kamu bisa menyombong pada teman-temanmu
“Tahukah
kalian apa itu Magnetic Levitation Train?
Itu adalah kereta yang memanfaatkan gaya magnet yang membuat kereta sedikit
melayang, sehingga gaya gesek dengan rel berkurang dan kereta tersebut mampu
bergerak lebih cepat hingga 600 km/jam.
“Jadi
aku bisa bolak-balik Semarang-Jakarta selama empat kali sebelum perut kalian selesai
mencerna apa yang kalian makan. Karena paling tidak butuh waktu lebih dari 6 jam setelah kalian
makan.
“Oh
bahkan sekarang kalian
mungkin belum bisa mencerna
semua kata-kataku. Hahaha”
Dan teman kalian akan bertepuktangan
atas pengetahuanmu, tapi tidak pada kelakuan burukmu—Oke, kalian mungkin setuju, bahwa kita
pernah bertemu banyak orang pintar yang menyebalkan.
Aku melirik jam tanganku, sudah hampir
dua jam ketel uap di kepalaku mendidih. Semakin lama, terasa semakin membuat
frustasi, depresi—bahkan konstipasi. Aku memulainya dengan tidak—atau
belum—berharap apa yang akan aku tulis, dibaca, terlebih disukai. Asapnya akan
sulit membumbung tinggi di angkasa, bersanding dengan pancaran aurora-aurora satra
lain yang lebih dahulu menghiasi cakrawala literasi. Tapi aku akan tetap
menulis. Meskipun nantinya hanya membekas bagai jelaga, hitam namun kentara,
seperti ampas kopi, diacuhkan namun tetap ada. Aku bukanlah—tapi akan belajar
menjadi—penulis yang baik. Seseorang pernah berkata, karya pertama adalah yang
terburuk. Dan aku pun mengerti akan datangnya angin yang menerpa—sejenis angin
sepoi, malahan badai. Kesalahan disana-sini, konsep yang tidak jelas, pemilihan
kata yang buruk, dan sementara kalian menyiapkan
daftar dosa-dosaku yang panjang, seiring panjang gerbong kereta kata ku
sendiri. Gerbong itu akan terus melaju, melalui bukit, lembah, berkelok di
hamparan sawah. Dan apabila semua kereta akan kembali pada tujuan awalnya,
stasiun keberangkatannya. Keretaku pun dengan senang hati kembali ke tempat
segalanya dimulai. Kepada
apa, atau tepatnya siapa yang memberikan
lengkingan peluit terakhir, penanda kereta karyaku sudah waktunya berangkat,
tanpa mengacuhkan penundaan yang tak berarti.
Anne Frank, seorang anak kelahiran 12
Juni 1929. Beranjak ke usia 10 tahun saat dia dan keluarganya menjadi korban
dan dipaksa tinggal di dalam bunker sebuah kamp konsentrasi saat tragedi holocaust, ketika Nazi mulai berkuasa di Jerman. Dia menulis buku harian yang diterbitkan
pada tahun 1947 dengan judul The Diary of
a Young Girl, setelah kematiannya pada tahun 1945. Aku mengutip tulisannya,
yang tercatat tanggal 20 Juni 1942,
“Untuk seseorang seperti aku, ada perasaan aneh ketika menulis buku harian. Bukan hanya karena aku belum pernah menulis, melainkan karena akupun berpikir bahwa baik aku maupun orang lain tak akan tertarik pada curahan hati seorang remaja berusia 13 tahun. Tapi, sebenarnya bukan itu permasalahannya. Aku ingin menulis dan berbincang dengan diriku sendiri tentang apa yang muncul dari dalam jiwaku. Kertas kan lebih sabar daripada manusia”
Aku Menghormatimu dan Segala Kebaikan
yang ada dalam Dirimu
Salam,
Nico Arviannanda

Comments
Post a Comment