Aku dan Puntung Rokok Ku
Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, bla..bla..bla..
(gambar ilustrasi diambil dari klikdokter.com)
Hey I’m a smokers.. salam buat kalian sahabat sebat dan maaf buat yang sambat jika kami merokok terlalu dekat. Lalu, kenapa memilih rokok? Jawabnya, kenapa tidak?—klise. Sejak jaman linting hingga menjadi komoditas penting, rokok sudah menjadi “kawan” yang mampu melampaui batasan usia, gender, strata ekonomi-sosial, suku, ras dan agama—tetapi tetap tidak mampu melawan stigma. Berbagai jaman, berbagai gempuran sudah dilewati para perokok veteran—atau pensiunan—namun mereka tetap kawula manunggaling kebul, setia dalam setiap hisapannya. Dan secara berkelanjutan generasi-generasi perokok bandel ini akan terus bermunculan, yang nampaknya kalah, tapi terus bergerak dan melakukan perlawanan dalam diam.
Harga yang merangkak naik seiring dengan naiknya cukai tembakau—terlebih setelah diketuk palu, tahun ini naik 12,5 persen—bukan halangan, tapi berupa tantangan. Tantangan untuk mebiasakan mulut kita yang biasa dicumbu aroma lembut rokok-rokok pabrikan, kini mulai mencari alternatif rokok-rokok murahan. Kalau istilahnya cangkem’e dadi cangkem asbak, ora mbako ora tegesan ditampani (mulutnya jadi seumpama asbak, baik tembakau, baik abunya, diterima semua). Bahkan lucunya penjual tembakau lintingan murah meriah yang biasanya dijumpai di sudut-sudut pasar tradisional, kini mulai menggeliat di pinggir-pinggir jalan, mulai dari dibonceng sepeda motor hingga ditata rapi di atas box pick-up. Semakin anehnya lagi, lintingan sudah naik kelas, dikemas sedemikian rupa dalam bentuk cafe-cafe estetik bak cafe-cafe kopi kekinian—lagipula apalah arti ngopi tapi ngga ngerokok? Jadi merokok bukan lagi primitif tapi kreatif. We will survive layaknya cerita rakyat Roro Mendut, rokok berlapis tipis bibir sang Rara, membuat gila semua orang yang men-gandrungi-nya mau membayar berapapun yang ditawarkannya.
Sejak jaman ”Merokok dapat menyebabkan bla..bla..bla..” hingga lahir versi pendeknya “Merokok Membunuhmu” we always listening, always understanding. Kami para perokok telah terliterasi dengan baik, telah mengerti, bahaya apa yang mengancam—atau tidak mengancam?—kami kedepannya. Namun sebagian besar kami adalah orang-orang praktis, yang menjalani hidup sebatang demi sebatang. Filosofi hidup kami adalah lebih baik menjadi abu karena terbakar bara, dari pada hambar dimakan angin. Jadi mau dokter, perawat, suster, mantri, teman, pacar, orangtua—walaupun kita ngga pernah ngaku ngerokok sama ortu—kasih nasihat buat berhenti, bukan kita tidak mau, tapi seperti yang tertulis di bungkusnya,
“Rokok mengandung tar dan nikotin, Iya entar juga diturutin”
Merokok juga merupakan identitas bagi kami. Bukan ajang gengsi, karena harus diakui cowok merokok ngga bikin tambah ganteng, kecuali lahir sudah seperti Zayn Malik. Kami cuna berharap asap rokok dapat memberikan efek blur untuk menutupi kekurangan kami—sebuah pengakuan. Beragam suku dan budaya, ras dan agama yang bersatu padu akan terpecah dan terbagi dua antara perokok dan bukan perokok. Ketika dihadapkan situasi dan suasana baru, yang canggung, keluarkan sebat, nyalakan, maka sesama perokok akan saling mengerti dan saling memahami. Asap rokok dapat menjadi mercusuar, di lautan jiwa-jiwa yang canggung tak saling kenal, seolah mengirim sinyal: dia adalah teman saya, kami punya identitas yang sama, keluh kesah masalah yang sama—mirip asap peringatan bangsa Indian. Dan “Bang, rokok bang? Ambil aja punya saya” works like magic word yang mampu mengungkap sejuta perbendaharaan kata lawan bicara kita. Sebatang habis limabelas menitan, cukup untuk mengorek filosofi hidup seseorang hingga beban cicilan-cicilannya—masih menjadi misteri, topik utama selalu berkisar how to living my life 101 dan urusan uang yang kebanyakan dengan bangga diceritakan besar pasak daripada tiang.
Jadi, betapapun stigma yang jatuhkan kepada kami, kami selalu moving on. Your comments is valid, we cant deny that, kami hanya terlalu sibuk mencari cara menyambung rokok kami daripada menggubris kalian. Tidak, tidak, kami tidak benci kalian, kami justru berterimakasih karena kalian tidak pernah lelah mengingatkan. Kita hanya tidak satu tuju dalam memilih candu, because to something that takes away the pain, we’re all addicted. Right?
Aku menghormatimu dan segala kebaikan yang ada pada dirimu,
Salam, Nico Arviannanda

Comments
Post a Comment