MELANGKAH: Melawan Anggapan Kaum Rebah
Berlari bukan hanya demi eksistensi, tapi menempa diri lewat konsistensi..
(gambar ikustrasi diambil dari heaty.org)
Tahun 2020 sudah terlewati, tahun dimana kita dihajar
habis-habisan oleh pandemi—virus corona. Tanpa mengesampingkan segala dampak negatif
yang timbul dari cobaan ini—yang mungkin dialami sebagian besar dari
teman-teman, kerabat, keluarga atau masyarakat pada umumnya. Like blessing in disguise ada hal
menarik yang muncul bersamaan dengan masa pandemi ini yaitu maningkatnya minat
orang untuk berolahraga.
Diantara beberapa pilihan olahraga yang mulai bermunculan, pilihan jogging dan bersepeda nyatanya sangat digemari, bahkan di banyak tempat, beberapa komunitas baru ataupun klub-klub yang sudah terlebih dahulu ada mulai meramaikan jalan—asalkan jargon “dengan menjalankan protokol kesehatan” tetap bergema.
Well, jogging atau berlari kecil sendiri adalah pilihan olahraga yang tergolong mudah—tidak ribet dengan peralatan tetekbengek nya, bisa dilakukan dimana saja, kapan saja—dan murah—tapi jangan salah! Let me take you for a little ride to nearest shopping mall atau kalau takut berkerumun masa-masa korona coba search saja “running shoes” di aplikasi marketplace kalian: ada lhooo sepatu lari sampai juta-jutaan rupiah! Sebut saja merk AD*D*S yang dibanderol dengan harga 3 sampai 7 juta. Memang kebanyakan dibalik harga yang mahal terdapat kenyamanan dan fungsi yang mumpuni dan... harga diri.
Cobalah mampir ke beberapa stadion atau jogging track disekitarmu (tapi tetap, hati-hati korona), banyak berlalu-lalang sepatu-sepatu mentereng yang akan mengangkat harkat dan martabat pemakainya. “Wah, mau jogging nih, outfit nya harus berapa juta ya?” My dear, there is where you totally wrong, buat kalian yang ingin berolahraga, namun dompet tak kuasa menyangga, jangan putus asa. First of all, harga mahal tidak menjamin apapun! Yap, sepatu berjuta-juta tidak otomatis buat kaki kalian lari sendiri, seram juga kan? Kalau kalian sudah membulatkan tekad, itulah modal yang harus dipertahankan. Nah, kalau tekadnya sudah kumpul, kita lanjut ke pokok utamanya, se-pa-tu.
Running shoes ramah kantong pun bisa jadi alternatif kalian, dengan harga kisaran 200-500 ribuan bisa kalian bungkus. Murah tapi tidak murahan, “Gimana kalo nggak awet?” tenang... kita punya data-datanya. Lets start! Ala-ala reviewer kita mulai dari sepatu merk yang pasti kalian kenal, SP*T*C, E*GL*, dan SP*CS—meskipun pabrikan sepatu ini juga memiliki kualitas premiumnya, tapi kita akan sajikan versi ekonomisnya. Dibanderol rata-rata 200-500ribu merk SP*T*C lebih memberikan banyak corak pada desian-desainnya, daripada dua merk lain yang cenderung monoton, jadi buat yang pengen stand out bisa dicoba.
Lanjut, untuk ketahanannya, dari tiga merk yang telah melewati riset mendalam—iseng saja, nggak dalam-dalam banget, rerata pemakaian 10.000 sampai 15.000 langkah per hari—pakai step counter android phone—tidak cuma jalan saja tapi juga diselingi jogging dan running—tergantung napas pemakainya. Pengguna memiliki proporsi badan bit overweight—iya, iya, gendut, iya—jadi bisa bayangkan beban yang ditanggung sepatunya. Jarak tempuh pemakaian rerata 10-12 km per hari. Masa pakai full 8 bulan (±244 hari), tidak berarti setelahnya sepatu rusak, cuma kenyamanannya saja sudah berkurang untuk olahraga, buat mejeng, main, atau jalan-jalan okelah—sobek-sobek dikit disana-sini tak apalah. Lumayan kan ketahanannya, dipakai full tanpa skip, hujan-panas kita terjang!
“Tapi sepatu mahal pasti lebih awet, punya temen bisa sampai setahun hlo!” Anda tidak salah, beberapa survei yang dilakukan serampangan dari pelbagai pemakai sepatu kisaran 1-2 juta, rerata bisa bertahan 1 sampai 1,5 tahun. Tapi mari kita perhitungkan secara matematis dan ekonomis. Anggap saja pemakaian sama; harga 500ribu bertahan 8 bulan, harga sejuta bertahan 1 tahun. Singkatnya, harga per bulan pemakaian untuk sepatu ekonomis sekitar 60 ribu dan untuk sepatu jutaan sekitar 80 ribu. See?
Jadi apapun pilihan sepatumu, baik ekonomis maupun mahalan, nyatanya tidak berbeda jauh dari segi pemakaiannya. Asalkan kalau beli yaa dipakai. Sekali lagi, tidak memungkiri bahwa sepatu mahal akan memberikan kenyamanan ekstra saat dipakai. Tinggal bagaimana kita sebagai penggunanya memanfaatkan, yang terpenting jangan pernah mengurungkan keinginan untuk berubah menjadi lebih sehat hanya karena minder atau tidak punya uang lebih untuk mengejar gengsi dan eksistensi. Berlari walaupun sepatu kamu tidak shinning, shimmering, splendid karena berlari adalah sebuah ritual pribadi dan intim untuk melihat sejauh mana kamu mampu mengubah dirimu, untuk mengalami perubahan-perubahan yang nantinya kamu alami dan nikmati sendiri. Percayalah dan ingat the most pathetic story is when you let the beast lying on the cage. Jadi keluarlah! Berlarilah! Semangat sehat kawan!
NB: jangan pernah beli sepatu KW untuk olahraga, cari yang asli walaupun murah. Selain cepat rusak, terkadang desain sepatu KW dibuat asal jadi tanpa memperhatikan segi kenyamanan. Outsole/insole tipis, bentuk tapak yang tidak simetris dapat berujung pada cedera-cedera ringan yang dapat berkelanjutan menjadi cedera yang lebih serius, stay safe
Aku menghormatimu dan segala kebaikan yang ada pada dirimu,
Salam, Nico Arviannanda

Comments
Post a Comment