Segelas Ilmu, Penjual Jamu
Urip
Iku Amung Sawang Sinawang Nak...
Aku menghabiskan menit-menit pertamaku, tertawa terbahak, melihat
judul yang baru saja aku tulis. Well,
nampak biasa sebenarnya, tapi akan berbeda jika aku menulisnya menjadi “Segelas
Rindu, Penjual Jamu” maka ide awal tulisan ini hilang, digantikan judul FTV
(Film Televisi) yang marak tayang di TV Swasta di Indonesia—mungkin cara
pemberian judul kocak seperti ini merupakan strategi promosi para produser,
karena unik dan khas serial FTV, sehingga lebih mudah diingat?
Bulan Januari, dimana angin muson barat bertiup dari Samudera
Hindia melewati wilayah Indonesia. Membawa serta banyak uap air mengakibatkan
curah hujan tinggi di hampir seluruh wilayah Indonesia—yakinlah bahwa istilah
‘gerimis romantis’ sangat tidak relevan menggambarkan situasi ini. Kali ini
hujan tidak turun, hanya angin yang kencang menyapu dedaunan kering di teras
rumah, dingin terasa sedikit lembab—seperti berdiri di depan pintu kulkas di
hari-hari kemarau yang panas, akuilah hampir semua dari kita melakukannya.
Tepat
pada saat tubuhku yang mulai meringkuk kedinginan, dari sudut gang samping
rumahku, nampak seseorang berjalan berbelok melewati pagar depan rumah. Menggendong
bakul besar dari anyaman bambu, terikat pada selendang tenun. Setelah diperhatikan,
si pembawa bakul merupakan wanita usia awal lima puluhan, mengenakan kebaya
hijau jahitan sederhana bermotif kembang
kanthil lengkap dengan kain jarik
menyelubungi kakinya. Sandal yang mengalasi kakinya sudah menipis dan kotor
karena terseret saat berjalan, nampak titik air dipermukaan payung dan caping (sejenis
topi lebar berbentuk kerucut dari anyaman bambu) yang dipakai. Badannya agak
bungkuk ke depan, tapi tak menghalangi suara lantang keluar dari dirinya,
“Jamuuu... Jamuuuu... Jamu ne mas, mbak, cah bagus, cah ayu.
Bapak, ibu... jamuuuu...”
Seketika munculah rasa iba di hatiku. Tidak ada salahnya aku membeli
jamunya, siapa tahu dapat berkhasiat menangkal sakit-penyakit yang kerap datang
di musim penghujan ini. Segera aku memanggil dan mempersilahkan masuk ke teras
rumahku agar terlindungi dari tiupan angin dingin oleh pohon perdu dan tanaman
pagar tinggi. Lalu dimulailah percakapan dalam bahasa Jawa, si ibu menggunakan
bahasa jawa krama (tingkatan bahasa
jawa yang tinggi dan sopan) sementara dengan tidak bermaksud kurang sopan aku
berusaha mengimbanginya dengan bahasa jawa krama
campur ngoko (tingkatan bahasa jawa
yang paling rendah dan cenderung kasar)—rasa malu ku timbul karena sebagai
orang jawa, aku kurang fasih berbahasa jawa halus.
“Ngersaken jamu napa Mas (Mau jamu apa
mas)?” dia bertanya sambil meletakkan bawaannya, terdengar dentingan
botol-botol kaca berbenturan satu sama lain.
“I... Iya...”
jawabku salah tingkah menghadapi keramahtamahannya, menggugah batinku. “Kalau
musim penyakit seperti ini, cocoknya jamu apa ya Mbok?”—percakapan langsung saya alih bahasakan, menghemat energi
menulis, haha.
“Biasanya sih
yang laris Jamu Brotowali Mas, Mas nya mau? Pahit tapi Mas.” Sahut ibu itu
tersenyum, menampakkan gigi kuning, beberapa sudah tanggal.
“Wah kok
pahit Mbok? Aku ga begitu suka pahit”
Sekilas info, Brotowali merupakan tanaman dari keluarga Menispermiaceae, bernama latin Tinospora
crispa. Batangnya berbentuk cabang lurus dan berbintil berwarna coklat tua.
Mengandung senyawa fitokimia (Alkaloid, Flavonoid, dll) yang bermanfaat antara
lain Imunologi (menstimulasi sistem imun tubuh), Anti alergik (mengurangi
akibat alergi), Antipiretik (penurun panas) dan Antioksidan (penangkal radikal
bebas)
“Nggak apa-apa pahit Nak, tapi kan ada
tombo-nya (penawar). Ada Beras Kencur
atau Kunir Asem yang manis, mengurangi rasa pahit nya. Atau ini ada jajan pasar
dan makanan kecil kalau masih kurang”
“Boleh deh Mbok segelas, sama kue apemnya”
Sambil menyesap jamu pahit dan mengunyah apem, aku mulai bertanya
tentang keseharian si ibu, tentang jualannya bahkan sampai keluarganya. Dan sembari
kubiarkan si ibu bersandar sejenak di kursi teras, dia tidak segan—diselingi senyum
dan canda ringan—mulai bercerita. Si ibu berjualan jamu selama kurang lebih 30
tahun, dulu masih dibantu suaminya yang juga menjajakan jamu, namun sepeninggal
suaminya 14 tahun yang lalu, si ibu tetap meneruskan berjualan untuk menghidupi
anak-anaknya. Anak si ibu sendiri total ada 4; Anak pertama perempuan sudah
bekerja di toko kain sambil meneruskan kuliah sore di sebuah Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi. Anak kedua dan ketiga masih bersekolah tingkat SMA dan baru masuk
SMP. Sementara anak terakhir merupakan anak asuh, anak yatim-piatu dari tetangganya,
masih SD kelas 1. Karena ibu si anak itu sudah meninggal dan ayahnya pergi
entah kemana, lagipula si anak sudah akrab dengan anak kandungnya, maka ibu itu
memutuskan untuk merawatnya.
“Memangnya cukup Mbok? Penghasilan Mbok berjualan
jamu untuk menghidupi keluarga?” Spontan aku bertanya
“Ya dicukup-cukupkan Mas, rejeki kan
bisa datang dari mana saja, tergantung niat kita untuk mencarinya. Kadang sekeluarga
hanya makan 2 kali sehari, kadang saya hanya makan sayur dari kebun,
supaya anak-anak bisa makan nasi dan
sisa uang bisa ditabung untuk sekolah anak-anak.”
“Kok bisa ya? Biasanya sehari jualan
bisa laku habis? Dapat berapa Mbok?”
sebenarnya pertanyaan ini kurang sopan terdengar, tetapi entah kenapa ada
keharusan untuk menanyakannya. Karena getir pahit jamu di lidah ini juga mulai
terasa pahit di hati setelah mendengar cerita singkat si ibu. Antara rasa
kasihan dan penasaran, pikirku.
“Ya sedapatnya Mas” Jawab ibu, “Saya
sih tidak memaksakan harus dapat berapa, harus berjualan seperti apa, habis
atau enggak yang penting saya bisa pulang tepat waktu. Bisa meluangkan waktu
untuk anak-anak saya, apalagi yang masih kecil kan sedang butuh banyak perhatian.”
Seketika aku terhenyak dengan pernyataan Ibu ini. Dibalik kehidupannya
yang ‘kurang beruntung’, si ibu masih mengutamakan nilai-nilai keharmonisan
keluarganya dibandingkan nilai materi belaka. Terlebih lagi dengan anak yang
masih kecil dan ketiadaan sosok seorang ayah yang sudah lama meninggal. Si ibu mendapatkan
kebahagiaan dirinya dan anak-anaknya dengan caranya sendiri.
Berkaca dari itu,
banyak orang tua sekarang yang kurang membahagiakan anaknya, ataupun anak yang
kurang memperhatikan orangtuanya—seperti aku—karena sibuk menempatkan diri
menjadi ‘mesin pencetak uang’ yang tangguh. Seolah menganggap dengan uang atau
barang berkelimpahan maka kebahagiaan bisa dibeli. Uang, walaupun berwujud
(koin, kertas, cek, dll) namun nilai uang itu sendiri abstrak—lihat saja
bagaimana kurs dollar yang berubah-ubah
tak tentu atau bagaimana uang digital berpidah dari bank satu ke bank lain,
dari negara satu ke yang lain, serta harga yang cenderung tidak lagi
disesuaikan dengan kualitasnya. Keabstrakan nilai uang itu sendiri, bagi
kebanyakan kita, dianggap sebagai pengganti kehadiran kita yang harusnya lebih
nyata, konkrit dan berarti bagi keluarga atau orang terdekat.
Kemudian aku berpikir, bisa saja aku yang merasa lebih beruntung
ini tidak lebih bahagia daripada kehidupan si ibu ini. Dengan segala kesibukan
ala kantoran, banyak menghabiskan waktu untuk ditukar selembar-dua lembar
rupiah, menyita relasi sosialku, bahkan di lingkup paling kecil, keluarga. Atau
bisa saja si ibu, dengan segala kekurangannya, usianya, anak-anak yang harus
dirawatnya—hingga membuatku merasa sombong dan menaruh belas kasihan semata
karena meremehkan—justru telah menimba inti dari arti kebahagiaan yang belum
sempat kuperoleh. Kebahagiaan sederhana yang mudah ditemukan, tetapi banyak
orang—termasuk aku—mempersulitnya dengan cara-cara, target-target; harus punya
ini-itu, sebanyak ini atau sebesar itu. Lalu pertanyaanya, siapakah yang
sebenarnya yang harus dikasihani? “Lalu jika apa yang ditempuh ibu ini sudah benar-benar
membuatnya bahagia. Sebernarnya bahagia seperti apakah yang dirasakannya?” pikirku.
Dan seolah membaca isi pikiranku, ibu ini menjawab dengan tidak terkesan
menggurui, lebih seperti nasehat yang menyejukkan.
“Urip
iku sawang-sinawang Mas... ada yang terlihat kaya tapi tidak bahagia, ada
yang terlihat miskin tapi bisa menjadi
bahagia, bisa juga sebaliknya. Bahagia itu tidak berwujud barang atau uang atau
benda lain yang kita temukan. Bahagia itu rasa yang kita ciptakan. Dengan apa? Dengan
rasa syukur yang tidak berkesudahan. Dengan usaha dan doa yang tulus. Bentuk kepasrahan
pada sang Pencipta, sang pembolak-balik hati. Kita dan apa yang kita miliki itu
kecil dimata Tuhan Mas, yang boleh kita besarkan hanya hati. Besar kepada diri
sendiri, besar terhadap sesama kita.
“Urip
iku mung mampir ngombe (Hidup itu
hanya menumpang minum). Seperti Mas-nya minum segelas jamu tadi, pahit memang
Mas. Tapi kita harus menerimanya, meminumnya, menghabiskannya dan menjalani
segala kepahitannya. Sebelum nantinya Mas dapat tombo, penawar yang manis. Bagaimana Mas menuntut yang manis-manis
terus, kalau gelasnya Mas saja masih penuh?”
Penjual jamu itu melangkah pergi, menerjang angin yang semakin
dingin. Tetapi langkahnya pasti, meninggalkan senyum yang berbinar,
perasaan yang menyejuk dan hati yang terasa hangat. Terima kasih atas jamunya Mbok.
Aku menghormatimu dan segala kebaikan yang ada
pada dirimu,
Salam, Nico Arviannanda

Comments
Post a Comment