Nasi Goreng, Makanan Pilihan tanpa Keluar dari Zona Nyaman
Apapun Minumannya, Makannya Nasi Goreng
(gambar diambil dari piknikdong.com)
Urusan pilah-pilih makanan memang bukan perkara hidup dan mati tapi suatu perkara yang tidak mudah,selain isi dompet, selera memang pelik. Misal kalian nongkrong atau ngedate dengan pasangan—jomblo minggir dulu—di resto atau cafe kekinian, jangankan tahu jenis makanannya, melafalkan namanya pun susah. Apa yang akan anda pesan?—Nasi Goreng. Dan somehow nasi goreng selalu—hampr pasti—menjadi pilihan karena mampu menerobos segala batasan. Karena apa sih yang bisa bikin berantakan dan bikin mahal dari nasi putih, bumbu dasar sama telor yang di goreng se-simple itu.
Lalu kenapa sih nasi goreng bisa se-istimewa itu, mari kita intip awal penciptaannya. Nasi goreng awalnya dikenal dengan nama Hanzi berasal dari negeri China—itulah kenapa ada pepatah Kejarlah ilmu hingga ke negeri China, karena disana ada nasi goreng—enak kali ya belajar ngemilnya nasi goreng. Olahan makanan ini juga bukan hanya perkara nasi ketemu bumbu dapur dan diaduk-aduk dalam wajan panas saya. Justru dibalik komponen-komponen nasi goreng yang “gampangan” tersimpan kerumitan-kerumitan hidup—eh—makna hidup dan simbol-simbol yang bisa kita nikmati. Apa sajakah itu? Mari kita ungkap sesendok demi sesendok.
1. Simbol Kebijaksanaan. Cerita ini dimulai dari keluarga-keluarga di China yang menyisakan nasi dan beberapa lauk makan malam mereka. Takut basi dan sayang—ciee sayang—dengan sisa makanan mereka, mereka mencampur nasi dan beberapa lauk dengan tambahan bumbu dan dipanaskan di wajan. Voila! Jadilah hanzi yang diyakini menjadi cikal bakal kuliner sejenis nasi goreng di seluruh pelosok bumi. Kebijaksanaan untuk tidak sembarang membuang makanan sisa, bahkan mengolahnya kembali sungguh ajaran yang baik. Bagaimana tidak, sering kita jumpai sebagian besar orang menyisakan makanan mereka dan sebagian yang lain mengais-ais hanya demi makan. Someone’s trash is someone else’s treasure
2. Simbol Kesederhanaan. Apa susahnya bikin nasi goreng. Perkara bumbu dasar, bawang-bawang, cabe, merica dan teman-temannya kamu bisa bikin nasi goreng semudah menjentikan jari—tidak perlu kursus, ikut kelas online atau kompetisi masak-masak. Bahkan banyak praktik-praktik terselubung manusia-manusia instan yang bikin nasi goreng cuma pakai sambel cobek. Dari bahan-bahan yang sering dijumpai, mudah didapat dan tergolong sederhana kita bisa menciptakan sesuatu.
3. Simbol Akulturasi. Akulturasi adalah proses sosial peleburan dua kebudayaan tanpa menyebabkan hilangnya unsur utama dari masing-masing kebudayaan. Ribet yah? Bagi yang berkesempatan keliling dunia—saya sih belum—nasi goreng banyak ditemukan dimana-mana dengan kekhasannya sendiri. Spanyol punya Paella, Peru punya Arroz Chaufa, Korsel punya Kimchi Bokkeumbap (tuh kan, apalah arti Korsel tanpa kimchi), Malaysia punya Pattaya, Trinidad & Tobaggo punya Pelau, Ghana punya Jollof dan last but not least Omurice-nya Jepang. Hanzi bukan Cuma milik China.
4. Simbol Perubahan. Pernah mendengar burung finch dari Galapagos? Burung finch adalah spesies burung yang mengalami evolusi karena keanekaragaman jenis makanan, perubahan fisiologis terjadi pada bentuk-bentuk paruhnya. Paruh bebek bagi burung pemakan tunas pohon, paruh pematuk untuk memakan serangga dan intisari tumbuhan, paruh tajam untuk memecah biji-bijian, dan seterusnya. Apa hubungannya? Justru itulah, perubahan-perubahan tersebut juga diadaptasi dengan baik oleh nasi goreng. Sebut saja, suka makan kambing—ada nasi goreng kambing, suka seafood—ada juga nasi goreng seafood, jerohan, ebi, ikan asin, pete, rendang juga ada. Sulit memutuskan makan nasi atau bakmie? Tenang kita punya nasi goreng magelangan, nasi campur bakmie goreng—unik kan? Cocok buat kaum penganut makan mie instan pake nasi.
Kalau kita mau mengulik lebih dalam lagi, banyak hal yang bisa kita gali dari sepiring nasi goreng. Walaupun tergolong makanan yang murah atau merakyat, bukankah nasi goreng sudah mengisi ruang-ruang kehidupan kita dan mendapatkan tempat spesial bagi kita semua—siapa yang mengalami nasi goreng buatan bapak, yang gak pinter-pinter amat masak, kadang pake minyaknya banyak atau nasinya sampai berkerak?
Honour you and your kindness within. Nico Arvian Nanda
Comments
Post a Comment